Happy Family [Missing Zitao]

The cast are not mine. They belong to God

Happy Family

colville_park_swings_2010

fic by Choi Seong Yeon

 

Genre —

Family and Friendship

Rate —

K+

Warn!

Drabble

Genderswitch, Mistyping, Crack-pair,

Failed Fanfic, Leader Line, Magnae Line.

Cast

Zitao, Jongin, and Sehun as Children

Wu Yifan and Suho as Perents

.

.

Summary—

Kehidupan Yifan dan Suho setelah kelahiran anak-anaknya. Dua bayi namja—Zitao, Sehun dan satu bayi yeoja—Jongin, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagian Yifan dan Suho memiliki anak-anak menggemaskan dan pintar./ Zitao menghilang. Dia bertemu dengan Noona baik hati yang menjaganya sampai Suho datang menemukannya. 

.

.

Present

.

.

Missing Zitao

.

.

Zitao—bayi berusia dua tahun, sedang bermain dengan bola kuning yang baru dibelikan Daddynya kemarin, kembaran dengan kedua saudarannya. Zitao yang baru bisa berjalan, tertatih mengejar bolanya yang dia lempar.

 

Karena pintu rumah terbuka, bola kuning yang tadi dilemparnya menggelinding keluar rumah. “Uungh—bola Tao.” Ujarnya tidak jelas.

 

Suho sedang menemani Jongin tidur dan menyusui Sehun di ruang tengah, tidak menyadari anak tertuanya keluar rumah mengejar bola kuning. Sedangkan Yifan sedang bekerja di kantornya.

.

.

Zitao masih kekeh mengejar bola. Bolanya menggelinding cukup jauh dari rumahnya. Saat dia berhasil mengejar bolanya, dia baru menyadari dia sudah pergi jauh dari rumah.

 

“Euungh—Eomma.” Kepala Zitao bergerak ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan Eommanya. Tapi yang didapatinya hanya jalan dan rumah-rumah yang tidak Zitao kenali.

 

Kaki kecilnya berjalan tertatih sambil memegang bola kuningnya, menelursuri jalan. Matanya berkaca-kaca siap mengeluarkan air mata. Kakinya lelah terus berjalan dan tidak kunjung menemukan sosok Suho.

 

Tangan mungilnya memeluk bola erat. “Eomma, Daddy” Zitao memanggil Suho dan Yifan dengan suara bergetar. Perasaan takut menghampirinya sedari tadi.

 

Zitao berhenti di taman tempat kompleks rumahnya berada. Dia sering ke taman ini bersama Yifan, Suho, Jongin dan Sehun setiap hari minggu pagi.

 

Dia menghampiri ayunan di tengah taman, dan menaruh bola kuning yang dari tadi dia peluk di atas pasir. Lalu dengan susah payah menaiki ayunan. Biasanya Suho atau Yifan akan mendorong ayunan untuknya.

 

Zitao lelah menangis dan tenggorokannya terasa sakit. Dia benar-benar merindukan keluarganya. Merindukan kasur pandanya, Eomma, Daddy dan juga dua saudara kembarnya. Matanya terasa memanas lagi, dia ingin menagis tetapi sudah lelah.

 

Matanya memandang ke sekeliling taman, berharap menemukan Eommanya. Kaki mungilnya yang tergantung di ayunan bergerak-gerak, berusaha menggerakan ayunan yang dinaikinya.

.

.

“Zitao—er” Suho memanggil anak pertamanya dari tadi tapi tidak kunjung mendapat jawaban.

 

Suho baru saja memindahkan Jongin dan juga Sehun ke kamarnya. Waktunya tidur siang ketiga anaknya. Tetapi Zitao yang belum mengantuk dia biarkan bermain sambil menidurkan anak-anaknya yang lalin.

 

Setelah menidurkan kedua anaknya, dia malah tidak mendapati Zitao di rumahnya. Dia melihat pintu rumah dan pintu gerbang yang terbuka. Suho langsung panik luar biasa.

 

Buru-buru dia menelpon Yifan, memberi tahu Zitao menghilang. “Yifan, Zitao menghilang. Bagaimana ini? Aku takut” Suho berbicara dengan suara bergetar. Dia bahkan lupa mengucapkan salam tadi.

 

Ne? Aku akan segera pulang. Tenanglah.” Setelahnya sambungan telpon terputus.

 

Suho sangat takut terjadi apa-apa dengan Zitao. Bagaimana jika Zitao diculik? Pikiran buruk terus menghantuinya. Suho berjalan keluar rumah, dan tidak lupa untuk mengunci pintu.

 

Dia akan mencari Zitao sambil menunggu Yifan datang. Pandangannya meneliti setiap jalan yang dia lewati sambil memanggil-manggil nama anaknya. “Zitao Zitao Tao—er Tao—ya

.

.

Zitao sedang bermain perosotan saat tiba-tiba ada anak perempuan menghampirinya. Di tangannya ada coklat batangan yang sedang dia makan. “Hai adik kecil” Mata sipitnya melengkung indah saat menyapa Zitao.

 

Zitao menatap anak perempuan yang lebih tua di hadapannya. “Kau mau ini?” Dia menyodorkan coklat yang dipegangnya pada Zitao.

 

Tangan Zitao mengambil potongan coklat yang diberikan padanya. Energinya habis karena menangis lama membuat perutnya lapar, jadi tanpa pikir dua kali dia mengambilnya.

 

“Siapa namamu? Noona bernama Luhan.” Luhan duduk di hadapan Zitao yang sedang duduk di atas perosotan yang habis dinaikinya.

 

“Zitao” Zitao menjawab dengan mulut berisi coklat.

 

“Kau kelihatan masih kecil sekali. Apa kau ke sini sendiri?” Zitao mengangguk, matanya kembali berkaca-kaca mengingat Eommanya kembali.

 

“Aah—Kau pasti tersesat ya, Zitao?” Luhan mendekati Zitao dan memeluknya. “Noona akan menjagamu sampai kau ditemukan.”

 

Luhan memberikan semua coklatnya yang tersisa pada Zitao. Kemudian dia bercerita banyak pada Zitao. Dari Luhan yang anak tunggal, umurnya yang berusia lima tahun sampai kebiasaannya ke taman untuk bermain dengan kucing liar bernama Silky di taman.

 

Zitao senang karena Luhan datang, dia jadi tidak kesepian dan takut lagi. Ada Noona baik hati yang menjaganya sampai orangtuanya datang menemukannya.

 

“Apa kau mau melihat Silky?” Zitao mengangguk, tangan kanannya digenggam Luhan. Membawanya menemui Silky, kucing liar yang sering Luhan ajak bermain.

 

Awalnya Zitao merasa takut, tapi Luhan meyakinkannya Silky kucing baik dan tidak akan menyakitinya. Jadi Zitao berani memegang Silky bahkan Zitao sampai berani menggendongnya.

 

Silky itu kucing putih menggemaskan. Kata Luhan dia menemukannya sedang sendiri saat masih bayi. Tidak ada induknya yang menemani. Tadinya Luhan ingin memelihara Silky tapi orang tuanya melarangnya, karena Luhan memiliki asma. Tapi orang tuanya membolehkannya menjenguk Silky di taman dan memberinya makan.

.

.

Suho mempercepat langkahnya saat melihat anaknya di taman bersama anak perempuan. Perasaan lega menghampiri Suho melihat anaknya baik baik saja.

 

“Zitao—ya” Zitao menengok dan langsung berjalan tertatih menghampiri Suho. Dia sangat senang karena Suho akhirnya menemukannya yang tersesat.

 

Eommaaaa—“ Zitao memeluk Suho dengan erat, rindu dengan pelukan Eommanya. Suho menciumi wajah Zitao sayang. Lalu pandangannya beralih pada anak perempuan di hadapannya, dia tersenyum lembut pada Luhan.

 

“Tadi Luhan melihat Zitao sedang bermain sendiri di taman, Auntie. Jadi Luhan menemani Zitao.” Luhan menjelaskan pada Suho.

 

“Terima kasih ya, Luhan. Karena sudah menjaga Tao sampai Auntie datang.” Suho mengelus rambut panjang Luhan sayang.

.

.

Setelah Suho mengantarkan Luhan pulang ke rumahnya dan mengucapkan terima kasih. Dia kembali ke rumahnya sambil menggendong Zitao yang kelelahan.

 

“Kau membuat Eomma cemas, Tao—ya. Jangan keluar rumah tanpa Eomma atau Daddy lagi, arrasseo?” Zitao mengangguk. Bibirnya menciumi pipi Suho berkali-kali.

 

“Ayo sekarang waktunya tidur siang. Jongin dan Sehun sudah tidur dari tadi. Eomma akan menemani Zitao tidur.” Zitao tersenyum senang.

 

Suho menidurkan Zitao di kasurnya, dia ikut berbaring menyamping di sebelah Zitao. Tangannya membuka dua kancing kemejanya untuk memberikan asi dan Zitao meminumnya dengan lahap. Dia masih lapar, coklat tidak cukup untuk menghilangkan rasa laparnya.

 

Aigoo—Kau lapar rupanya.” Suho mengelus punggung Zitao, memberikan rasa nyaman untuk anak tertuanya. Suara lembutnya melantunkan lagu tidur.

 

Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar sampai kamar Zitao dan setelahnya Yifan muncul dari balik pintu. Wajah lega Yifan yang pertama kali Suho lihat. Dia memberikan senyum lembutnya pada sang suami.

 

Yifan ikut tidur di kasur kecil Zitao. Zitao yang berada di tengah kedua orang tuanya merasa senang. “Anak Daddy pergi kemana tadi, eoh? Kau ini membuat Daddy dan Eomma khawatir saja.” Yifan mencium pipi Zitao yang masih menyusu pada istrinya.

 

Suara lembut Suho membuatnya mengantuk di tambah lagi tangan lembut Suho yang mengelus rambutnya. Sudah beberapa hari ini dia lembur. “Tidurlah, Sayang. Maaf membuatmu susah ya.” Yifan hanya bergumam dengan mata terpejam sambil memeluk Zitao dan Suho di sampingnya.

 

Suho keluar kamar setelah Zitao tertidur. Dia membiarkan Yifan tidur di kamar anaknya. Baru saja dia mendudukan tubuhnya di sofa saat tiba-tiba saja suara tangis Jongin terdengar. Hah baru saja aku mau istirahat. Walaupun rasa lelah menghampirinya tapi perasaan senang tetap bersamanya. Bahagia mempunyai keluarga kecilnya seperti sekarang.

.

.

.

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s