Happy Family [Fever]

The cast are not mine. They belong to God

Happy Family

fever-600x420

fic by Choi Seong Yeon

Genre —

Family and Friendship

Rate —

K+

 

Warn!

Drabble

Genderswitch, Mistyping, Crack-pair,

Failed Fanfic, Leader Line, Magnae Line.

Cast

Zitao, Jongin, and Sehun as Children

Wu Yifan and Suho as Perents

.

.

Summary—

Kehidupan Yifan dan Suho setelah kelahiran anak-anaknya. Dua bayi namja—Zitao, Sehun dan satu bayi yeoja—Jongin, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagian Yifan dan Suho memiliki anak-anak menggemaskan dan pintar./ Jongin terkena demam. Zitao dan Sehun kesepian tidak bisa bermain bersama Jongin.

.

.

Present

.

.

Fever

.

.

Nafas pendek Jongin terdengar menyedihkan. Tubuhnya panas membuatnya tidak nyaman. Dari satu jam yang lalu Jongin tidak berhenti menangis. Wajahnya memerah dengan air mata mengalir dari dua mata sipitnya.

 

Rambut sebahu yang dikuncir ekor kuda sudah berantakan karena dia yang tidak bisa diam bergerak. Di dahinya tertempel kompres plester pereda demam.

 

Jongin selalu menolak untuk makan atau minum susu, membuat Suho khawatir dan bingung. Yifan sampai absen dari kantor untuk membantu mengurus anak-anak. Mereka tidak menggunakan jasa baby sitter atau pembantu rumah tangga sehingga tidak ada yang membantu.

 

Eomma di sini, Sayang. Sudah jangan menangis lagi. Pasti kau lelah.”

 

Tangan Suho menepuk-nepuk pelan tubuh Jongin dalam pelukannya. Tangis Jongin mulai mereda. Karena terlalu lelah Jongin pun akhirnya tertidur dalam pelukan Suho yang terus mengelus punggung Jongin.

 

“Jongin sudah tidur?” Yifan datang sambil menggendong Zitao dan Sehun di kedua tangannya.

 

Ne, dia rewel sekali. Panasnya belum turun dari semalam. Apa kita perlu membawanya ke dokter?” Suho berujar pelan takut membangunkan Jongin.

 

Yifan duduk di pinggir kasur. Zitao dan Sehun langsung turun dari gendongan Yifan dan duduk di kasur, melihat Jongin yang sedang tertidur.

 

“Tidak perlu, aku tadi menelpon Mommy katanya Jongin hanya kelelahan saja. Kita hanya perlu memberinya air madu hangat dan membiarkannya banyak istirahat.” Telapak tangan besar Yifan mengelus puncak kepala Jongin.

 

“Begitukah? Yeah kemarin dia bermain semangat sekali sih. Untung saja Zitao dan Sehun tidak sakit juga.” Pipi Zitao dan Sehun dikecup sayang oleh Suho.

 

Eomma, Apa Sehun dan Tao tidak boleh bermain dengan Jongin?” Sehun bertanya pada Suho. Wajah sedihnya terlihat sekali.

 

“Tao dan Sehun ingin bermain dengan Jongin.” Zitao bergelayut manja pada leher Suho.

 

Yifan mengelus kepala dua putranya. “Jongin sedang demam, Sayang.” Zitao dan Sehun memandang memelas pada kedua orang tuanya.

 

“Nanti kalau Jongin sudah sembuh kalian bisa bersama lagi.” Suho mengecup sayang pipi kedua putranya.

 

Walau kadang mereka sering bertengkar atau berebut mainan, tapi jika salah satu tidak bersama mereka akan merasa kehilangan. Dan akan terus merengek pada orang tuanya.

 

“Ayo kita keluar, nanti Jongin bangun. Dan tidak lekas sembuh.” Mereka keluar meninggalkan Jongin yang tidur di dalam kamarnya.

.

.

Yifan, Zitao dan Sehun sedang menonton film kartun favorit si kembar. Zitao dan Sehun terlihat fokus sekali saat menonton. Yifan sampai tersenyum geli sendiri melihat wajah serius kedua putranya.

 

Hello Daddy, Tao, Sehun, Jongin datang” Suho datang dengan Jongin dalam gendongannya. Dia menirukan suara Jongin tadi.

 

Zitao dan Sehun yang tadi fokus melihat tv mengalihkan pandangannya pada Jongin yang terlihat masih mengantuk. Kondisinya sudah lebih baik setelah diberi air madu hangat sehabis bangun dari tidurnya.

 

Suho menurunkan Jongin di dekat kedua kembarannya. “Jongin, sudah sembuh?” Zitao mendekati Jongin sambil membawa boneka anjing kesayangan kembarannya.

 

Jongin mengangguk sambil tersenyum menampilkan gigi-giginya yang belum semuanya tumbuh. “Eung, Jongin sudah sembuh.” Kepalanya mengangguk lucu, menggoyangkan rambut kuncir kudanya. Padahal wajahnya masih pucat dan tubuhnya pun masih lumayan panas.

 

“Ayo bermain bersama. Sehun kesepian tidak ada Jongin.” Sehun menggenggam tangan kecil Jongin.

 

“Zitao juga.” Zitao mengangguk, tidak ada Jongin acara bermainnya jari kurang menyenangkan.

 

Yifan dan Suho tersenyum melihat interaksi ketiga anaknya. “Jongin belum boleh bermain, Sehun sayang. Nanti kalau panas Jongin sudah turun kalian boleh bermain sepuasnya.”

 

Ketiga anaknya yang mendengar kalimat larangan barusan memasang wajah cemberut bersamaan. “Apa kalau Zitao mencium Jongin. Jongin akan sembuh?”

 

“Kenapa harus dicium, sayang?” Yifan heran mendengar pertanyaan Zitao.

 

“Karena jika Zitao, Sehun atau Jongin jatuh Eomma pasti mencium bagian yang sakit dan akan sembuh.” Suho tersenyum geli mendengarnya.

 

“Tentu saja, Jongin akan cepat sembuh jika Zitao dan Sehun mencium Jongin.”

 

“Sehun juga akan mencium Jongin kalau begitu, supaya Jongin makin cepat sembuhnya. Dan kita bisa bermain kejar-kejaran seperti kemarin lagi.”

 

Lagi-lagi Jongin diserang ciuman oleh kedua saudara kembarnya, kali ini bahkan Yifan dan Suho pun ikut menciuminya. Jongin tertawa geli menerima serangan dadakan dari mereka. Tawanya tidak bisa berhenti, membuat ruang keluarga mereka ramai dan ceria kembali.

.

.

Zitao, Sehun dan Jongin akhirnya memlih untuk menonton DVD kartun mereka. “Jongin ingin menonton apa?” Sehun bertanya pada Jongin, padahal biasanya mereka berebut memilih film kartun apa yang mau ditonton.

 

Euum—Jongin ingin menonton Cinderella saja.” Tangan kecil Jongin mengambil kaset bergambar gadis memakai gaun berwarna biru.

 

“Baiklah, kita akan menonton Cinderella.” Mata sipit Zitao melengkung indah saat mengatakannya, tangannya memegang kaset yang tadi Jongin ambil dan memberikannya pada Suho.

 

Suho ikut menonton bersama tiga anaknya dan menanggapi setiap celotehan atau pertanyaan yang ketiga anaknya lontarkan, sementara Yifan sedang mengerjakan tugas kantornya hari ini sambil ikut menemani keluarga kecilnya.

 

Eomma, Jongin jika sudah besar ingin menikah dengan pangeran yang tampan.” Telunjuk Jongin menunjuk pada tv dan wajahnya menatap Suho dengan mata berbinar.

 

“Sehun ingin menjadi pangeran kalau begitu supaya bisa menikah dengan perempuan cantik.” Suho tersyum geli mendengar celotehan kedua anaknya. Lalu pandangannya beralih pada satu anaknya yang hanya diam.

 

“Kalau Zitao ingin menjadi apa kalau sudah besar nanti?” Suho bertanya pada Zitao sambil tersenyum lembut dan tangannya yang mengelus pucuk kepala Zitao.

 

“Zitao ingin menjadi ksatria supaya bisa menjaga Jongin, Sehun, Eomma, dan Daddy nanti jika sudah besar. Zitao akan mengalahkan orang-orang jahat yang mengganggu Jongin, Sehun, Eomma, dan Daddy.” Zitao berbicara sambil tangannya memeragakan saat dia mengalahkan orang-orang jahat.

 

Suho mencium kepala Zitao mendengar penuturan anak sulungnya, membuatnya terharu. Yifan yang juga mendengarnya tersenyum bangga mendengarnya. “Tentu saja, Zitao nanti akan menjadi ksatria yang hebat jika sudah besar nanti.”

 

“Kalau begitu Sehun akan membantu Tao supaya tidak ada yang mengganggu orang-orang yang Sehun sayangi.” Senyum Sehun mengembang melmperlihatkan gigi-gigi susunya.

 

“Jongin juga—Jongin juga akan membantu kalau begitu.”

 

Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai film yang sedang mereka tonton diabaikan. Yifan dan Suho benar-benar bahagia mendengar celotehan ketiga anaknya yang membuat haru.

.

.

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s