Happy Family [Quarrel]

The cast are not mine. They belong to God

Happy Family

Emotional-Support-Play-Dates-SuperBaby

fic by Choi Seong Yeon

 

Genre —

Family and Friendship

Rate —

K+

Warn!

Genderswitch, Mistyping, Crack-pair,

Failed Fanfic, Leader Line, Magnae Line.

Cast

Zitao, Jongin, and Sehun as Children

Wu Yifan and Suho as Perents

.

.

Summary—

Kehidupan Yifan dan Suho setelah kelahiran anak-anaknya. Dua bayi namja—Zitao, Sehun dan satu bayi yeoja—Jongin, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagian Yifan dan Suho memiliki anak-anak menggemaskan dan pintar./ Si kembar bertengkar. Bagaimana Yifan dan Suho menghadapinya?

.

.

Present

.

.

.

Quarrel

.

.

Halaman belakang rumah keluarga kecil Yifan dan Suho yang dihiasi banyak tanaman dan mainan anak-anak menjadi tempat bermain si kembar tiga menghabiskan waktu sorenya.

 

Suho mengawasi anak-anaknya dari dalam dapur yang terhubung dengan halaman belakang. Dia sedang membuat makan malam untuk keluarganya sambil menunggu suaminya pulang.

 

Zitao dan Sehun sedang bermain dengan mobil-mobilan favoritnya di atas perosotan. Sedangkan Jongin bermain ayunan sendirian. Di tangannya dia menggenggam boneka kesayangannya.

 

Uugh—tolong Jongin.” Jongin bersusah payah untuk turun dari ayunan yang dinaikinya. Ayunan di rumahnya memang sedikit tinggi untuknya, dia harus dinaikan oleh orang dewasa jika ingin menaikinya.

 

“Tao—Sehun—“ Jongin memanggil kedua kembarannya.

 

Zitao yang mendengar panggilan Jongin menghampirinya, meninggalkan Sehun yang masih bermain dengan mobil-mobilannya.

 

“Ada apa, Jongin?” Zitao bertanya. Suara Zitao membuat Sehun menengok ke arah dua saudaranya. Dia menghampiri mereka dengan tangan yang menggenggam mobil-mobilannya.

 

“Jongin ingin turun, tapi tidak bisa.” Jongin cemberut sambil menggembungkan kedua pipinya.

 

“Sini, Zitao bantu.” Sehun yang baru akan membantu Jongin, mengurungkan niatnya karena sudah didahului kakak sembilan menitnya.

 

Zitao menaruh boneka Jongin di bawah lalu dia menggendong tubuh Jongin yang lebih kecil darinya. Zitao merasa menjadi yang harus bertanggungjawab atas kedua adik kembarnya karena dia yang tertua di antara ketiganya.

 

“Terima kasih.” Jongin menyunggingkan senyum manisnya.

 

Suho tersenyum lebar melihat interaksi kedua anaknya dari dalam dapur.

.

.

Sehun menonton televisi di pangkuan Yifan. Mulutnya tidak berhenti mengunyah jelly. Kedua matanya fokus melihat televisi sedangkan tangan kecilnya terus menurus memasukkan jelly dari bungkusan dalam pelukannya.

 

Di sebelah Yifan duduk Jongin dan Zitao yang juga sedang menonton televisi. Zitao dan Jongin berbagi buah strawberry bersama.

 

Daddy, aaa—“ Jemari kecil Jongin menyuapkan sebuah strawberry ke depan mulut Yifan.

 

Thank you, Sayang.” Yifan mengelus pucuk kepala Jongin dan menciumnya.

 

Jongin juga menyuapkan buah strawberry untuk Zitao yang berada di sampingnya. Dia menusuk-nusuk bibir Zitao dengan buah di tangannya. “Tao, aaa—“ Zitao membuka mulutnya dan menerima suapan buah strawberry dari adik kembarnya.

 

Jemari kecil Jongin kembali mengambil buah strawberry di atas piring. Kali ini dia akan memberikannya pada Sehun yang seddang asik dengan jelly dan tayangan di televisi.

 

“Sehun, Sehun—“ Jongin memanggil Sehun sambil berdiri dari duduknya menghampiri adik kembarnya dengan membawa strawberry yang cukup besar di tangannya.

 

Jongin menyodorkan buah di tangannya pada Sehun. Kepala Sehun menggeleng, menolak pemberian Jongin. Jemari kecilnya kembali masuk ke dalam bungkus jelly dan memakan cemilan kesukaannya.

 

Dibandingkna dengan kedua saudar kembarnya Sehun yang paling susah untuk makan. Dia lebih memilih memakan jelly, chocolate, permen atau cemilan lainnya dibanding dengan memakan buah atau sayur.

 

Suho sudah membuat makanan yang menarik untuk membuat Sehun memakan buah dan sayur namun Sehun tetap selalu menolaknya. Maka dari itu tubuh Sehun yang paling kurus disbanding kedua saudaranya walaupun dia tinggi untuk anak seusianya.

 

Jongin masih gigih menyodorkan strawberry pada Sehun. “Sehun, aaa—“ Tangan kecilnya memegang buah merah berbintik di depan mulut Sehun.

 

Kepala Sehun mundur, menghindari buah di tangan Jongin. “Sehun tidak mau, Jongin.” Sehun yang kesal akhirnya menangkis tangan Jongin yang menyodorkan buah padanya.

 

Bibir Jongin melengkung ke bawah, matanya yang berkaca-kaca melihat buah strawberrynya  menggelinding di dekat kakinya.

 

Yifan buru-buru merengkuh Jongin dalam pelukannya walaupun masih ada Sehun dalam pangkuannya. Jongin duduk menyamping dalam pelukannya, punggunnya ditepuknya lembut berulang-ulang. “Sst—sudah, jangan menangis.”

 

Zitao memungut strawberry Jongin yang terjatuh dan langsung memakannya. Jongin makin mengeraskan tangisannya melihat buah strawberry yang sengaja dia sisakan untuk Sehun malah dimakan Zitao. Sedangkan Sehun masih tenang di atas pangkuan Yifan sambil memakan jellynya.

 

“Huaaaaa—kenapa strawberrynya Tao makan?” Jongin berbicara disela tangisannya. Sedangkan Zitao hanya membulatkan matanya. Apa salahnya makan strawberry? Dia terlalu asik menonton televisi sampai tidak tahu kejadian sebelumnya.

 

Suho yang mendengar suara tangis Jongin langsung menghampiri kaluarga kecilnya. “Jongin kenapa?” Tanya Suho sambil mengambil alih Jongin dari suaminya.

 

Suho membawa Jongin menjauh dari ruang keluarga untuk menenangkan putri satu-satunya.

.

.

Sehun berguling-guling di atas karpet ruang keluarga. Jelly-jelly yang tadi dia makan sudah berpindah tangan ke Zitao. Yifan yang memberikannya saat Zitao meminta pada Sehun namun anak laki-laki yang paling terakhir lahir tidak mau memberikannya. Alhasil Yifan menyitanya dan memberikan pada Zitao.

 

“Kau sudah makan jelly terlalu banyak, Sehun.” Yifan menghiraukan Sehun yang masih asik berguling-guling di sampingnya sambil menangis.

 

Daddy mau?” Zitao menyodorkan jelly berbentuk ulat pada Yifan.

 

“Terima kasih, Sayang.” Yifan mengelus rambut Zitao sayang.

 

Sehun berdiri dari aksi guling-gulingnya lalu berdiri di hadapan Zitao dengan pipi yang basah oleh air matanya. “Itu punya Sehun, Tao.” Sehun merebut bungkusan yang berisi  banyak jelly dari Zitao.

 

Daddy—“ Sehun memekik saat hasil jelly rampasannya diambil Yifan. Sehun memberengut sebal.

 

Eommaaa—Daddy jahat.” Sehun berlari sambil menangis ke tempat Suho menenangkan Jongin.

 

Yifan menghela nafas lelah. Begini susahnya punya anak kembar tiga.

 

Oh. Daddy, Sehun pergi.” Suara Zitao membuatnya menoleh. Zitao yang paling gampang diatur dan jarang menangis. Yifan mengangkat Zitao dalam gendonganyya lalu mengecupi kedua pipi anaknya gemas.

 

“Hihi—Daddy, geli.” Zitao menggeliat dalam serangan ciumannya.

.

.

Suho sedang duduk diatas ayunan bersama Jongin. “Jadi kenapa Jongin menangis, hmm?” Ibu jarinya mengusap jejak air mata di pipi anaknya.

 

Suara cegukan sehabis menangis menjadi tambahan suara saat Jongin menjawab. “Tadi Jongin memberi Sehun strawberry tapi Sehun tidak mau dan malah membuat strawberrynya jatuh. Seperti ini.” Jongin memperagakan sperti yang Sehun lakukan padanya.

 

“Lalu, Tao memakan strawberrynya.” Jongin cemberut dengan bibir dimajukan. Suho tersenyum lembut mendengar cerita anaknya.

 

“Jadi Jongin menangis karena Sehun yang menolak pemberian Jongin atau Tao yang memakan buahnya?” Suho menggoyangkan ayunan dengan kakinya. Membuat suasana nyaman untuknya dan Jongin.

 

“Dua-duanya. Jongin kan sudah sengaja memilih strawberry yang besar untuk Sehun tapi Sehun malah jahat pada Jongin dan malah Tao makan strawberrynya.” Jongin cemberut saat mengingat kejadian tadi.

 

“Sehun ‘kan tidak suka makan buah dan sayur. Kata eomma buah dan sayur membuat tubuh sehat. Jongin dan Tao suka makan buah dan sayur jadi Jongin dan Tao sehat. Tapi Sehun tidak. Jongin ‘kan tidak mau Sehun sakit. Nanti tidak bisa bermain bersama.” Jongin menjelaskan alasannya memberikan buah strawberry dengan percaya diri dan semangat.

 

Suho tersenyum senang dan bangga mendengarnya. Anak perempuannya sangat peduli dengan saudara-saudaranya ternyata. Ibu mana yang tidak bangga.

 

“Wah, anak Eomma pintar sekali sih.” Suho menciumi kedua pipi gembul Jongin gemas. Sama seperti Zitao saat dicium Yifan, Jongin juga menggeliat sambil tertawa kegelian.

 

Eommaaa—Daddy jahat.” Tiba-tiba saja Sehun datang sambil menangis.

 

“Ada apa lagi ini?” Suho keheranan melihat Sehun yang tadi tenang-tenang saja di dalam bersama yang lain datang sambil menangis.

 

Sehun memeluk Suho yang masih duduk di ayunan bersama Jongin yang duduk menyamping di atas paha kirinya. Kepalanya dia benamkan ke perut Suho.

 

“Ya ampun, anak Eomma yang tampan kenapa menangis juga?” Suho mengangkat Sehun ke atas paha satunya. Sehun memeluk leher Suho sambil menangis sesenggukan.

 

“Ayo masuk ke dalam. Hup!” Suho berdiri menggendong kedua anaknya.

 

Jongin mengangguk meniyakan tapi Sehun menggeleng masih di lehernya. Rambut lebat anaknya bergoyang mengenai wajah Suho. “Tidak mau, di dalam ada Daddy.”

 

“Memang kenapa kalau ada Daddy?” Suho bertanya sambil berjalan membawa kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Angin malam yang semakin kencang yang membuat Suho membawa kedua anaknya masuk.

 

Sehun mendongakan wajahnya untuk melihat Suho. “Daddy jahat, Eomma.”

 

“Memang Sehun diapakan Daddy?” Jongin bertanya penasaran. Matanya membulat lucu.

 

Sehun memandang Jongin dan menjelaskan kenapa Daddynya dia sebut jahat. “Daddy mengambil jelly Sehun dan memberikannya pada Tao. Padahal Sehun ‘kan suka sekali dengan jelly. Ugh—Daddy jahat ‘kan?” Sehun cemberut lucu saat menceritakannya.

.

.

Yifan dan Zitao sedang makan berbagai macam buah yang tadi Yifan ambil di kulkas. Yifan mengupas buah apel lalu menyuapkannya pada Zitao dan dirinya. Sesekali Zitao yang menyuapi Yifan dengan buah yang ada di piring.

 

Mereka berdua pintar menghabiskan waktu berdua bersama. Hubungan ayah dan anak yang harmonis.

 

Eomma juga mau dong.” Suho membuka mulutnya, meminta disuapi oleh Zitao.

 

Jongin turun dari gendongan Suho dan ikut bergabung memakan buah. Sehun yang masih ngambek tidak mau turun dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Suho.

 

Yifan yang melihat Sehun masih marah padanya mengambil Sehun dari gendongan Suho setelah menaruh pisau dan buah yang tadi dikupasnya.

 

“Tidak mau, tidak mau sama Daddy.” Sehun meronta saat Yifan mengambilnya dari pelukan Suho. Yifan tidak jadi menggendong Sehun.

 

“Sehun masih marah sama Daddy?” Sehun mengangguk kencang.

 

Eomma, aaa—“ Zitao menyodorkan potongan apel yang tadi dikupas Yifan pada Suho. Rambut Zitao dielus sayang sebagai tanda terima kasihnya.

 

Daddy mengambil jelly Sehun karena Sehun sudah terlalu banyak memakannya dan tidak mau berbagi dengan Zitao.” Sehun memberengut mendengar penjelasan Yifan.

 

“Tapi Sehun suka jelly, Dad

 

Suho mengelus rambut Sehun sayang. “Daddy melakukannya karena Daddy sayang Sehun. Kalau Sehun terlalu banyak makan jelly atau makanan manis lainnya nanti gigi Sehun berlubang.”

 

Yifan menatap Suho yang menjelaskan dengan lembut pada Sehun. Suho memang jarang memarahi anak-anaknya dan lebih sering menjelaskannya dengan lembut dan mudah dipahami agar anak-anaknya mengerti.

 

Suho itu sosok yang sempurna sebagai ibu maupun sebagai istri. Penyayang dan pengertian membuat Yifan jatuh cinta lagi dan lagi setiap harinya pada Suho.

 

Daddy ‘kan tidak mau melihat Sehun sakit gigi karena kuman yang makan gigi Sehun. Daddy akan sedih nanti. Iya ‘kan, Daddy?” Yifan mengangguk sambil melihat Sehun yang juga sedang melihat padanya.

 

Jongin menghampiri Sehun dengan membawa piring yang berisikan buah-buahan, sedangkan Zitao membawa jelly yang tadi Sehun ributkan.

 

“Jongin juga akan sedih kalau melihat Sehun sakit. Sehun harus banyak makan buah dan sayur seperti Jongin dan Tao supaya sehat. Ini.” Dia menyodorkan piringnya pada Sehun agar memilihnya sendiri buah apa yang ingin dia makan.

 

“Iya, Tao juga akan sedih nanti.” Zitao duduk di depan Sehun yang masih betah dalam gendongan Suho yang sedang duduk berhadapan dengan Yifan. “Ini, Tao kembalikan jelly Sehun.”

 

Suho melepas tangannya yang memeluk Sehun agar lebih mudah berinteraksi dengan kedua saudaranya. Sehun mengambil jellynya dan memberikannya pada Suho. “Eomma, Sehun tidak mau makan terlalu banyak jelly lagi. Sedikit saja, sedikit, Sehun memakannya.” Dia menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk mengambarkan sedikit.

 

“Sehun akan makan banyak buah dan sayur mulai sekarang. Hehe—dan akan membagi jelly Sehun dengan Tao dan Jongin“ Dia mengambil buah jeruk yang sudah dikupas dari piring yang disodorkan Jongin.

 

Sehun mengambil satu lagi dan menyuapkannya pada Yifan. “Maafkan Sehun ya, Daddy.” Lalu dia mengecup pipi Yifan.

 

“Sehun tidak mau menyuapi Eomma?” Sehun tertawa senang dan menyuapi Suho dengan buah yang sama seperti yang dia berikan pada Yifan.

 

“Jongin juga mau disuapi—“

 

“Tao juga mauuu—“

 

Hari ini Sehun belajar untuk berbagi dengan yang lain dan mulai menyukai memakan buah dan sayur.

.

.

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s