Misery [Chapter 1. Class Room]

The cast are not mine. They belong to God.

Misery

Cast—

Kim Jongin

EXO members

And others

Genre—

Crime and General

Rated—

M

Warn!

Yaoi, Harem, No Romance, Humiliation, BDSM, Hardcore, Typo(s)

Summary—

Kehidupan Jongin tidak pernah jauh dari derita.

Di sekolahnya dia menjadi tempat pemuas nafsu teman-temannya yang tidak bisa mengendalikan lonjakan hormon remaja. Tak jarang dia mendapat kekerasaan tiap kali mencoba melawan.

.

.

Present

.

.

.

Chapter I

Class Room

.

.

Asrama Hwasal merupakan salah satu sekolah menengah atas khusus laki-laki yang memiliki 97% kaum elit. Sedangkan 3% sisanya merupakan siswa beasiswa, menjadi kaum minoritas yang siap untuk ditindas. Kasus penganiayaan pun tak lepas dari sekolah ini.

 

Kim Jongin salah satu dari 3%nya, tak hanya penganiayaan yang kerap kali dia dapatkan tetapi juga pelecehan seksual. Hari-harinya tak pernah sepi dari ulah teman-temannya.

 

Guru-guru di sekolah pun tidak berniat untuk membelanya, karena yang menjadi dalang dari semua penderitaannya adalah anak donatur terbesar di sekolah. Tak ada satu pun yang dapat mengeluarkannya dari penderitaan.

 

Hidupnya seolah berteman baik dengan derita. Ibunya seorang pelacur, ayah kandungnya tidak diketahui. Karena terlalu banyak laki-laki yang menidurinya.

 

Saat umurnya 13 tahun dia diperkosa salah satu klien yang menyewa ibunya. Dari kecil pun ibunya tidak pernah memperlakukannya dengan baik, dia sering menjadi tempat pelampiasan kemarahaan ibunya.

 

“Tidak, kumohon hentikan.” Jongin mencoba melawan Sehun yang mencoba memperkosanya di dalam kelas. Oh Sehun, si anak donator terbesar, salah satu penyumbang derita Jongin.

 

Guru Bahasa Inggris, masih mengajar di depan kelas. Teman-temannya pun masih lengkap di dalamnya.

 

“Diamlah!” Sehun menampar pantat Jongin yang tidak dilapisi apapun. Celana seragam dan celana dalamnya dilepas paksa dan sedang menggantung di ujung kakinya.

 

Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal biasa untuk siswa Hwansal. Mereka pun kadang kerap kali mencicipi tubuh indah Kim Jongin.

 

Jongin tidak berada di bangku miliknya. Setelah 30 menit pelajaran dimulai Sehun menariknya ke bangku milik Sehun yang berada di belakang bangku miliknya dan langsung melepas pakaian bawahnya.

 

“Ehm—“ Tubuh Jongin menungging di atas meja dengan kaki menggantung di hadapan Sehun. Bibirnya digigit guna meredam desahan yang keluar dari mulutnya.

 

Jari panjang Sehun sedang sibuk menggaruk dinding rektum Jongin. Dasi Jongin yang tadi melingkar di kerah kemaja kini berpindah pada kedua pergelangan tangannya, mengikat keduanya erat.

 

“Sa—kit, ah tolong berhenti.” Jari panjang Sehun yang memiliki kuku panjang melukai dindingnya. Tanpa memperdulikan rintihan memohon Jongin, Sehun menambah dua jarinya terus menggaruk dinding Jongin.

 

Tangan bebas Sehun dia gunakan untuk mengocok kasar penis Jongin yang kecil. Pipi Jongin menempel pada atas meja keras yang basah terkena liurnya sendiri. Air matanya pun ikut berperan membasahi kedua pipinya.

 

“Dasar jalang. Kau berpura-pura tidak menyukai sentuhanku, tapi lihat penismu sekarang.” Sehun meremas penisnya kasar tanpa belas kasih sedikitpun. Penis kecilnya yang menegang ditarik kasar menjauhi tubuhnya.

 

“Aah—sakit, uh aakh” Air liurnya terus mengalir dari mulutnya.

 

Seluruh tubuhnya telah terjamah. Rektumnya terus digaruk kasar dengan tiga jari, penis yang dikocok sesekali diremas dan ditarik, pantat kenyalnya yang digigit serta kedua putingnya yang dijepit dengan penjepit kertas berbahan besi. Dengan keadaannya yang tertelungkup di atas meja membuat kedua putingnya menggesek kasar penjepit kertas yang menyiksanya.

 

“Aaaakh—“ Suara teriakan Jongin yang mencapai klimaksnya memenuhi ruangan kelas. Menghentikan Guru Im yang sedang mengajar di depan sana. Cairan spermanya keluar mengotori lantai.

 

“Wow. Kau benar-benar jalang rupanya.” Sehun menjambak kasar rambut Jongin, membuat kepalanya mendongak menghadap Sehun dengan mulut terbuka. Jari-jari Sehun yang kotor dengan sperma Jongin dimasukkan dalam mulutnya.

 

Mengorek isi mulut Jongin, sesekali menekan kerongkongannya, membuatnya ingin muntah. “Uokh—“ Mata Jongin terbuka lebar saat merasa benda besar dan keras menerobos masuk rektumnya sekali hentak.

 

“Tidak lagi, kumohon. Aah—“ Jongin terus saja memohon dan tak ada satupun yang didengar. Sehun menghujam penisnya kasar dan cepat. Tidak membiarkan Jongin menyesuaikan dengan benda keras dan besar yang memenuhi rektumnya.

 

“Akh—sakit.” Rambut hitamnya ditarik kasar Sehun, sesuai irama hentakan dari belakangnya. Kulit kepalanya terasa panas dan sakit. Dia juga bisa merasakan darah segar mengalir dari rektumnya, menetes melewati paha dalam.

 

“Uh—lubang jalangmu sangat nikmat, Jongiinh—“ Suara berdecit meja dengan lantai yang terdorong kasar gerakannya mendominasi suara di dalam kelas selain suara Jongin yang mendesah lirih kesakitan dan juga suara Guru Im yang mengajar.

 

Tangan Sehun merambat ke depan tubuh Jongin, menarik-narik kasar penjepit kertas yang masih menempel erat di putingnya. Puting Jongin berwarna merah membengkak dengan darah yang menghiasi sekitarnya.

 

“Aakh—oh kuuh—mohonh.” Jongin tidak menyerah untuk memohon belas kasihan dari laki-laki yang sedang memperkosanya di tempat umum.

 

“Diamlah, jalang.” Tangan Sehun yang tadi menarik-narik kasar puting Jongin berpindah pada penis kecil Jongin yang terbentur-bentur meja. Tangannya mengocok kasar dan cepat, tanpa menyesuaikan dengan tusukan yang diberikannya.

 

Sesekali lubang penis Jongin disiksa kasar dengan jari Sehun yang memiliki kuku panjang. “Yaah—“ Desahan keras Jongin saat Sehun menghantam telak prostatnya membuat teman-teman sekelasnya mengerang putus asa dengan gundukan di celana mereka yang semakin membesar.

 

“Oh sial.” Sehun mempercepat gerakannya. Mengejar klimaks yang sebentar lagi sampai. “Oh—ah aakh yah akh—“ Prostat Jongin terus ditusuk kasar berulang kali hingga mencapi puncak yang kedua.

 

Beberapa menit kemudian tanpa mempedulikan Jongin yang lemas setelah orgasme, Sehun mempercepat gerakannya hingga menyemburkan sperma dalam rektum Jongin sangat banyak sampai meluber keluar membasahi paha Jongin yang sudah basah dengan darahnya sendiri.

 

Sehun segera mencabut penis besarnya, memasukkannya kembali ke dalam celana. “Kau tidak berpikir ini selesai bukan?”

 

Pantat Jongin dinaikkan ke atas lebih tinggi, mencegah sperma yang ditampung di dalamnya keluar. “Aah—“ Jongin meringis perih ketika butt plug dengan diameter 4cm menutup rektumnya.

 

Perutnya kembung harus menampung sperma Sehun yang banyak dalam tubuhnya. Tangannya yang diikat membuat Sehun mudah untuk memainkan tubuhnya tanpa harus adanya perlawanan.

 

Tubuh rampingnya dibalik kasar dengan tubuh yang menindih tangan terikatnya. Kancing kemeja sekolahnya terbuka lebar memperlihatkan dengan jelas kedua putingnya yang memprihatinkan.

 

Karena meja kelas tidak dapat menampung tubuhnya. Kepala Jongin terkulai ke belakang, menunjukan leher jenjangnya.

 

“Ah—ah akh” Jongin hanya bisa terus mendesah dengan air liur yang membasahi sekitar bibirnya. Penisnya yang semula terkulai lemas setelah orgasme kembali menegang berkat kocokan Sehun yang tidak bisa dibilang lembut.

 

Bangku Sehun yang berada di tengah ruangan membuat semua yang di dalam kelas bisa melihat dengan jelas berbagai penyiksaan yang dilakukannya pada Kim Jongin selama pelajaran berlangsung.

 

Ting Ting Ting

 

Tanpa terasa waktu penyiksaan Jongin sudah berjalan lama. Bel istirahat yang berbunyi membuat teman-teman sekelasnya memilih keluar dari ruang kelas tidak mau mencari masalah dengan Oh Sehun, terkecuali Park Chanyeol. Dia partner Sehun menyiksa Kim Jalang Jongin.

 

“Aku tidak menyangka Kim Jongin benar-benar seorang jalang, Sehun.” Ujar Chanyeol seraya mendekati mereka.

 

“Sudah berapa kali kau orgasme, Jongin? Tunjukan betapa jalangnya dirimu pada Chanyeol.” Sehun menampar penis Jongin tiba-tiba.

 

“Akh—tidak lagi kumohon.” Chanyeol mengeluarkan penisnya yang tidak kalah besar dengan penis Sehun di depan wajah Jongin.

 

“Kulum penisku, Jongin.” Jongin menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya rapat-rapat.

 

Chanyeol mencengkram pipinya erat membuat mulut Jongin terbuka. “Well, I like to give you punishment. Dasar jalang.”

 

Kepala Jongin yang menengadah ke atas, membuatnya bisa dengan jelas melihat penis Chanyeol. Kedua tangannya yang terikat di belakang punggung membuat tubuhnya melengkung ke atas.

 

“Kau tidak mau membuka mulutmu untuk temanku, Jongin?” Sehun bertanya dengan nada sing-a-song. Tangannya mengambil sebuah pensil dari meja di sebelahnya.

 

Wajah Jongin ditampar-tampar kasar dengan penis Chanyeol yang besar. “Ya Tuhan, aakh—apa yang kau lakukan? Aaakh—“ Jongin berteriak merasakan sakit di penisnya.

 

Sehun memasukkan pensil yang tadi diambilnya ke lubang penis Jongin yang tidak seberapa besar. Setelah mulut Jongin terbuka, Chanyeol langsung memasukkan penisnya hingga menyentuh kerongkongan Jongin.

 

Jongin yang kesakitan tidak membuat mereka terganggu. Chanyeol menekan penisnya menusuk kerongkongan Jongin kasar. Menghentaknya mencari keninkmatan untuk penisnya yang besar.

 

Penis Chanyeol yang masuk dari atas mulut Jongin membuat skortum menggesek hidung dan pipi Jongin. “Ohokh—“ Jongin tersedak ketika lubang penisnya disiksa Sehun tanpa perasaan. Suaranya tersumbat penis besar Chanyeol yang bersarang di mulutnya.

 

“Aah—it feels so good, bitch.” Chanyeol terus menghentak-hentakan penisnya kasar tanpa mempedulikan Jongin yang sulit bernafas.

 

Tubuhnya yang ikut bergoyang akibat resonansi dari gerakan Chanyeol membuat butt plug di rektumnya masuk semakin dalam. Dan Sehun yang terus mengeluar-masukkan pensil di lubang penisnya sambil mengocok kasar penisnya sesekali meremas skortumnya.

 

“Nngghh—“ Jongin rasa tubuhnya tidak bisa menahan penyiksaan ini lagi. Pandangan terasa semakin menggelap. Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya.

 

Putingnya yang masih dijepit dengan penjepit kertas yang mau lepas membuat Jongin membusungkan dadanya. Belum lagi penjepit kertas itu sesekali diputar dan ditarik kasar oleh Sehun maupun Chanyeol sambil meremas dadanya yang mulai membengkak.

 

“Aku suka melihat penismu tertanam pensil seperti  ini, Jongin.” Sehun menambah kecepatan keluar-masuk pensil pada lubang penis Jongin. Menggesek dinding penis Jongin kasar dan penuh siksa.

 

Penis Jongin berwarna merah kebiruan dan menegang, pensil yang berada di lubangnya menghambat spermanya yang seharusnya keluar. Sehun yang melingkarkan jari-jarinya di penis Jongin membuatnya semakin merasakan gesekan antara dinding penisnya dan juga pensil, menggaruk penuh siksa.

 

Sehun kembali mengeluarkan penisnya yang kembali menegang. Sejenak kedua tangannya berhenti menyiksa penis Jongin, mengangkat kaki Jongin yang terkulai lemah. Tanpa peringatan dan tanpa mengeluarkan butt plug dari rektum Jongin, Sehun memasukkan penisnya sekali hentak dengan kasar.

 

Saat Sehun memasukkan penisnya tiba-tiba, Chanyeol pun melakukan hal yang sama di mulut Jongin. Menghentak semakin dalam, membuat tubuh Jongin melengkung ke atas menonjolkan dadanya yang bengkak dengan puting yang tersiksa penjepit kertas serta penis tengangnya yang tersumpal dengan pensil.

 

“Hokh—“ Suara Jongin yang berulang kali tersedak beradu dengan suara basah tumbukan antara dua penis dengan mulut dan juga pantatnya.

 

Kepala Jongin timbul-tenggelam di antara selangkangan Chanyeol, membuat suasana menjadi semakin panas. Sehun merasa kegiatan kali ini patut untuk diabadikan mengeluarkan ponselnya.

 

Beberapa kali memotret kegiatan mereka juga tubuh Jongin yang sedang diperkosa. Setelah selesai memotret Sehun merekam pemerkosaan Kim Jongin yang sedang mereka lakukan.

 

Chanyeol mengeluarkan penisnya saat Sehun merekam wajah Jongin yang tidak berdaya. Mulutnya terbuka dengan lelehan sperma di sekitar bibirnya, suara desahan berulang kali keluar.

 

“Lihat kamera, Jongin sayang.” Chanyeol menjambak rambut Jongin yang basah dengan keringat, membuat wajah Jongin menghadap kamera. Tanpa perlawanan. wajah Jongin yang ditarik Chanyeol menghadap kamera memperlihatkan wajahnya yang hina. Desahan lirih berulang kali keluar dari mulutnya ketika Sehun menumbuk prostatnya keras.

 

Penis Chanyeol menampar pipi Jongin berulang kali, sperma yang membasahi ujung penisnya pun diratakan pada wajah manis Kim Jongin. Dari mulai dagu, bibir, hidung, pipi dan berakhir di matanya.

 

“Aakh—ah ah—Sehun oh aakh—“

 

“Lihat betapa jalangnya seorang Kim Jongin.” Sehun semakin mendekatkan kamera ponselnya ke wajah Jongin.

 

Chanyeol kembali menjambak rambut Jongin dan memiringkan kepalanya. Penisnya kembali dia masukkan ke mulut hangat Jongin. “Hisap penisku, sayang.”

 

Jongin menghisap penis Chanyeol, lidahnya bermain di kulit penis dan juga ujung lubangnya, ketika penis itu keluar Jongin akan menjilatnya sperti ice cream yang dimakan di musim panas. Pipinya mencekung tiap kali dia menghisap panis Chanyeol yang besar. Skortumnya pun tidak luput dari jilatannya.

 

“Yah benar sperti itu, Jongin.”

 

Kamera ponsel Sehun berpindah turun untuk merekam puting Jongin yang dijepit. Setiap hentakan yang Sehun dan Chanyeol berikan menggoyangkan penjepit kertas, menyiksa Jongin. Darah keluar dari celah-celah antara puting dan penjepit.

 

Chanyeol ingin menunjukan betapa jalangnya tubuhnya Jongin dalam video yang Sehun rekam dengan memutar penjepit kertas. Setiap kali penjepit kertas diputar suara desahan keras Jongin keluar, yang sebenarnya adalah teriakan kesakitan namun mulutnya tersumpal penis Chanyeol.

 

“Ngghh—“ Penis Jongin yang tertancap pensil menjadi objek untuk direkam selanjutnya.

 

Penisnya yang menegang dengan pensil yang tertanam dalam, bergoyang-goyang menggoda untuk dicicipi. Sehun kemudian mengeluar-masukkan pensil itu dengan ritme pelan pada awalnya, tapi semakin lama gerakannya semakin kasar dan cepat.

 

Tak berselang lama suara Chanyeol yang mengeram penuh nikmat memenuhi video. Sperma keluar di dalam mulut Jongin membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk.

 

Chanyeol tidak mengeluarkan penisnya sampai Jongin menelan spermanya bahkan penisnya tetap mendesak keluar-masuk saat dia meraih puncaknya. Sisa-sisa sperma yang keluar dia semprotkan pada wajah dan juga tubuh Jongin.

 

“Wow. Kau benar-benar menggairahkan, Kim Jongin.” Chanyeol mengambil alih ponsel Sehun dan berganti menjadi dia yang merekam.

 

Chanyeol mengarahkan kamera ponsel pada penis Sehun yang keluar-masuk di rektum Jongin dengan butt plug yang juga berada di dalamnya.

 

“Aakh—ah” Suara desahan Jongin terus keluar karena sudah tidak ada benda yang menyumpal mulutnya. Suaranya memuhi ruang kelas yang kosong.

 

Sehun mengeluarkan penisnya hingga kepala penisnya saja yang berada di dalam, lalu tiba-tiba dia menghentakkan penisnya kasar dan keras menusuk prostat Jongin. Membuat sperma Jongin keluar dari sela-sela lubang penisnya yang masih tertancap pensil.

 

“Jalang Kim Jongin.”

 

Sehun kembali mengeluarkan penisnya yang masih berdiri tegak di antara zipper celana sekolahnya. Keduanya berjongkok di depan pantat Jongin.

 

Chanyeol yang merekam dan Sehun yang memainkan tubuh Jongin. Komentar betapa jalangnya Kim Jongin keluar tiap kali tubuh Jongin merespon sentuhan yang mereka berikan.

 

Butt plug yang berada di dalamnya digerakan maju-mundur oleh Sehun. Gerakannya yang kasar dan cepat sengaja tidak mengenai prostat Jongin. Mereka ingin mendengar Kim Jongin memohon untuk ditusuk dengan keras di prostatnya. Dinding rektumnya hanya terus digesek dengan kasar membuat rektumnya teras panas.

 

“Aakh—kumohon aah—“ Permohonan Jongin keluar di selah desahannya.

 

“Memohonlah dengan benar. Apa yang kau inginkan, Kim Jongin?” Sehun masih menggaruk-garuk kasar dinding rektum Jongin dengan butt plug.

 

Hit my spot eengh—tusuk prostatku. Aakh—“ Setelah permohon Jongin selesai Sehun langsung berulang kali menumbuk prostatnya dengan cepat dan kasar.

 

Beberapa menit kemudian Jongin sampai pada puncaknya. Pensil yang tertanam dalam lubang penisnya keluar karena terlalu kuatnya dorongan sperma.

 

Sehun mengeluarkan butt plug dari rektum Jongin dan Chanyeol segera merekam rektum merah Jongin yang masih berkedut. Sperma Sehun dari kegiatan mereka yang pertama keluar dari lubangnya.

 

“Eengh—“ Jari Sehun menusuk rektum Jongin yang berkedut. Telunjuk dan juga jari tengahnya tenggelam tersedot rektum Jongin. Kedua jarinya menekuk, kembali menggaruk dinding Jongin yang gatal dan juga perih. Sperma Sehun keluar banyak bercampur dengan darah Jongin. Membuat warnanya menjadi merah muda.

 

“Jalang asrama Hwasal memang tidak pernah mengecewakan.”

 

Chanyeol berhenti merekam setelah orgasme Jongin kembali sampai. “Berikan pada club jurnalistik dan suruh mereka menjadikannya bahan untuk bulan ini.” Setelah Chanyeol pergi ke ruang jurnalistik, Sehun kembali memainkan tubuh Jongin.

 

“Hah hh—“ Nafas Jongin memburu setelah berhasil mencapai puncaknya.

 

Sehun melepas ikatan dasi Jongin di tangannya lalu membawa Jongin ke depan jendela kelas mereka yang lebar. Kelas meraka yang menghadap lapangan membuat orang-orang yang berada di sana dapat melihat kegiatan apa saja di dalam kelas.

 

“Aah—kumohon hentikan, Sehun. Aku sudah melayani kalian berdua.”

 

“Aku belum selesai, sialan. Penisku masih membutuhkan lubang jalangmu.”

 

Sehun menempelkan tubuh Jongin pada kaca jendela. Dengan posisi berdiri Sehun kembali memasukkan penisnya ke dalam rektum Jongin. Kedua tangan Jongin menempel pada kaca jendela sebagai tumpuannya berdiri.

 

Penisnya yang digenggam Oh Sehun bertabrakan dengan kaca jendela setiap kali Sehun mendorong penisnya ke dalam. “Aakh—“

 

Sambil menumbuk prostat Jongin dengan kasar, Sehun manarik rambut Jongin hingga dia bisa melihat wajah Jongin yang berada di antara nikmat dan sakit. Bibirnya mencumbu bibir Jongin tidak sabaran. Lidahnya ikut bermain di dalamnya, melilit lidah Jongin dan mengabsen setiap deretan gigi Jongin dan langit-langitnya.

 

“Apa kau masih menyangkal kalau kau bukan jalang dengan ini?” Sehun semakin keras menggerakan pinggulnya. Jongin kalah dengan logikanya, dia terus mendesah nikmat walaupun penis Sehun hanya menggesek kasar dinding rektumnya.

 

Tanpa tangan Sehun yang memanjakan penisnya pun dia tetap mendesah hanya dengan penisnya yang terus membentur kaca jendela dengan kasar. Putingnya kembali menjadi mainan Sehun dengan ujungnya yang terus ditarik kasar dan juga dijepit.

 

Penjepit kertas berbahan besi yang tadi menyiksa putingnya membuat daging kecoklatan dan juga dadanya menjadi sangat sensitif. Karena terlalu banyak bagian tubuhnya yang dimainkan Sehun, orgasme yang entah ke berapa kali kembali datang.

 

Rektum Jongin yang menyempit membuat penis Sehun terjepit nikmat. Gerakkan pinggulnya semakin cepat untuk bisa meraih puncak kenikmatannya. Dengan beberapa tusukan terakhir sperma Sehun kembali memenuhi rektum Jongin. “Aaakh—“

 

Setelah mencapai orgasmenya Sehun membalikkan tubuh Jongin menghadapnya melumat kasar bibir Jongin yang membengkak. Dengan kedua tangannya meremas-remas dada Jongin yang membengkak.

 

Ciumannya turun menjadi ke leher jenjang Jongin, memberikan warna merah keungunan di sana. Selanjutnya berhenti di depan puting Jongin yang membengkak dan mengeluarkan darah. Putingnya terus dihisap hingga darah yang keluar dia minum layaknya ASI.

 

“Aah—ah” Kedua tangan Jongin menempel pada kaca, mempertahankan tubuhnya. Pantatnya yang memerah pasti dengan jelas terlihat oleh siswa-siswa lain yang berada di lapangan.

 

Ting Ting Ting

 

Bel masuk sudah berbunyi, menandakan waktu istirahat telah habis. Waktu istirahatnya habis untuk menjadi bahan pelampiasan Sehun dan Chanyeol, mempermalukan dirinya. Menginjak-injak harga dirinya. Oh bahkan aku sudah tidak memiliki harga diri.

 

Sehun menjauhkan tubuhnya dari Kim Jongin saat teman-teman sekelasnya mulai memasuki kelas. Penisnya yang besar walaupun dalam keadaan tidak menegang dimasukkan ke dalan celana sekolahnya.

 

Dia membalik tubuh Jongin membelakingi dirinya dan menghadap teman-teman sekelasnya. Dari belakang dia meremas dada Jongin yang membengkak dengan kedua putingnya yang berdarah.

 

“Kalian bisa memakainya sesuka kalian. Tidak perlu merasa sungkan.” Ijin Sehun untuk menggarap tubuh Jongin membuat teman-teman sekelasnya menyeringai terhadapnya. Sehun seolah menjadikan Jongin sebagai barang yang bisa dipakai bergantian dengan teman-temannya.

 

“Aah—“ Salah satu temannya, Baekhyun, menariknya ke meja guru. Membuatnya menungging dan memasukkan penisnya sekali hentak dengan mulutnya yang di sumpal penis Minseok yang duduk di atas meja. Rambutnya dijambak, untuk menggerakan kepalanya atas-bawah, memanjakan penisnya. Sedangkan tangannya memijat penis Minseok yang tidak bisa masuk dalam mulutnya.

 

Dan Jongin kembali menjadi pelampiasan seksual teman-teman sekolahnya, masih sekitar 15 teman sekelasnya yang mengantri, menunggu giliran menyetubuhinya. Dia berharap semoga dia bisa bertahan dengan kelakuan teman-temannya.

.

.

.

End

Advertisements

4 thoughts on “Misery [Chapter 1. Class Room]

  1. Hot banget thor. next chapter bdsm nya tambahin ya authornim yang kece. Tapi ceritanya gak kalah kece, bikin errrr 😂😘😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s