[Chapter 1] Girls on Mission

The cast are not mine. They belong to God.

 

Girls on Mission

A fic by Choi Seong Yeon

 

Genre—
Family, Humor, and lil bit romance

Rated—
T

Warn!
Genderswitch, Mistyping, Common story, Absurd

Cast—
Kim Jongin,
Lee Taemin,

Oh Sehun,

Choi Minho,

Kim Heechul,

Choi Siwon,

and others,

Summary—

Menceritakan hubungan antara anak kembar, Taemin dan Jongin, yang berusaha untuk mengambil hati laki-laki yang menyukai saudara kembarnya. Yeah, intinya cinta segi empat yang absurd dengan didominasi pertengkaran mereka sendiri.
.
.
Present
.
.

Jongin mencuri pandang pada sosok laki-laki tampan di sebrang mejanya. Pipinya merona hanya dengan melihat orang yang disukainya secara diam-diam.

 

“Kau kenapa, Jongin?” Luhan, teman sebangkunya bertanya heran melihat pipinya yang merona merah.

 

“Kau sakit? Wajahmu merah sekali.” Jongin gelagapan mendengar pertanyaan Luhan. Dia gugup sekali.

 

“A—aku tidak apa-apa.” Suara Jongin terdengar tidak meyakinkan di pendengaran Luhan.

 

Jongin kembali melahap makanan kantin masih dengan pipi merona. Luhan hanya menggedikan bahu dengan tingkah temannya.

 

“Kau benar-benar tidak kelihatan okay, Jongin.” Jongin menatap Luhan dengan mata bulatnya seolah bertanya Benarkah?

 

Eem— aku hanya kepanasan. Sekarang kan sedang musim panas.” Jongin mencoba meyakinkan sambil menggaruk belakang lehernya.

.

.

Mata Jongin melirik kearah lapangan sekolahnya. Di sana ada Sehun, orang yang diam-diam dia sukai, sedang berlatih rugby bersama timnya. Entah kenapa pipinya kembali merona.

 

Sehun terlihat bertambah keren saat sedang berolahraga. Keringat membuat poni hitamnya basah dan menempel di keningnya.

 

“Dia bahkan terlihat keren dengan baju basah oleh keringat. Daebak!” Jongin berguman sendiri saat melihat Sehun melepas pelindungnya dan hanya menggunakan bajunya yang basah. Tangannya yang menggenggam tali ransel mengerat. Tidak tahan dengan pesona Oh Sehun.

 

“Jongin-ah.” Dengan kilat tangan Taemin, kakak kembarnya, sudah bertengger manis di atas bahunya.

 

O-oh tidak, dia melihat ke sini. Jongin menjerit dalam hati. Jongin makin meleleh saat Sehun tersenyum ke arahnya—atau Taemin? Jongin merengut saat menyadari bukan hanya dirinya yang berada di sana.

 

Hi, Sehun.” Taemin dengan senyum cantiknya menyapa Sehun sambil dadah-dadah seperti model. Tubuh Jongin menegang saat tahu Sehun sedang berjalan ke arahnya dan Taemin—jangan lupakan.

 

Hi, Taem. Oh ada Jongin juga rupanya. Hi, Jongin.” Jongin benar-benar akan meleleh sekarang. Seperti ice cream yang menunggu untuk dimakan saat musim panas.

 

Hi, Se-sehun.” Jongin balik menyapa dengan suara bergetar. Taemin memandang adik 4 menitnya heran. Dia baru akan bertanya tapi beruntunglah Sehun memotongnya. Fyuuh—

 

“Kalian sudah mau pulang?” Sehun bertanya sambil menatap intens Taemin. Sampai-sampai bisa membuat Taemin bolong, jika saja bisa.

 

“Ya, kita sudah dijemput. Dah Sehun.” Taemin menyeret Jongin yang masih berada dalam rangkulannya. Jongin menoleh ke belakang dan mendapat lambaian dan juga senyum sejuta watt Sehun tercintanya.

.

.

Jongin dan Taemin sedang berada dalam mobil yang menjemput mereka. Di sampingnya Taemin sedang memainkan ponselnya.

 

Jari-jari lentik berhias nail art menari lincah di atas layar ponselnya. Membunuh serangga yang memenuhi layar ponselnya dengan sadis. Mulutnya bergumam “Mati kau!” atau “Sial! Tak akan kubiarkan kau lolos, serangga jelek.”

 

Yah, Taemin ini sebenarnya sedikit out of date. Dia kadang-kadang tidak tahu hal-hal apa saja yang sedang digandrungi remaja seusianya. Game saat smartphone pertama kali keluar saja masih dimainkan. Hiyuuh—

 

Jongin mentap jengah saudara kembarnya yang berbeda sangat jauh sekali dan tambahkan super—jika perlu, kelakuannya saat di sekolah dengan di rumah atau hanya berdua dengannya, oh dan Pak Jung—untuk sekarang.

 

“Berisik.” Jongin menyumpal telinganya dengan earphone putih kesayangannya, yang dibeli dengan hasil mengemis pada Ibunya. Tidak mau mendengar suara Taemin yang mulai teriak-teriak sambil memaki serangga-serangga di ponselnya.

 

Hey, Jong. Kau tidur?” Tiba-tiba saja wajah Taemin berada di sampingnya, di tangan kirinya memegang satu earphone yang dilepas dari telinga Jongin.

 

“Apa sih?! Jangan menggangguku. Aku mau tidur.” Jongin mendengus kesal dengan kelakuan Taemin. Bisa-bisanya gadis autis sepertinya menjadi incaran para siswa di sekolah mereka.

 

Taemin memanyunkan bibir sexynya yang masih kalah sexy dengan punya Jongin. “Eh—eh, Jong. Kau menyukai Sehun ya?”

 

Jongin yang tadi kembali memejamkan matanya langsung membuka lebar mata bulatnya. Untung tidak keluar karena kaget mendengar pertanyaan Taemin yang sebenernya seperti pernyataan di telinganya.

 

Sedangkan kakak beda empat menitnya malah menyeringai licik melihat reaksinya yang berlebihan. “A—apa mak—sudmu?” Jongin bertanya gelagapan. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Bahkan jantungnya seperti akan meledak, saking cepatnya berdetak.

 

“Jadi benar ya kau menyukainya, hmm—“ Taemin manggut-manggut sambil mengusap dagunya seperti detektif yang menemukan petunjuk.

 

“Aku tidak bilang begituuu—“ Jongin memekik nyaring menyangkal pernyataan Taemin yang sesungguhnya memang amat sangat benar.

 

Taemin mengusap kedua kupingnya yang berdengung mendengar teriakan cempreng Jongin. “Aish—suaramu jelek sekali.”

 

Jongin sedang menetralkan keadaan tubuhnya yang selalu bereaksi aneh setiap mendengar nama Sehun disebut atau melihatnya. Gadis menyerupai dirinya dengan rambut coklat sedang tertawa terbahak-bahak. Tidak ada kata anggun untuknya, yang biasa ditunjukan pada teman-teman sekolah.

 

Jongin mengutuk kembarannya dalam hati dengan makian mengerikan. Kalian tidak perlu mendengarnya. Makiannya tidak akan lulus sensor. Monggu, anjing kesayangan Jongin saja meringkuk ketakutan tiap kali mendengar Jongin memaki Taemin.

 

“Berisik. Suara tertawamu itu bisa menghancurkan gendang telingaku, Autis.” Jongin buru-buru keluar dari mobil saat Pak Jung berhenti di depan rumah. Kabur dari amukan Taemin yang baru saja dia katai autis.

.

.

Jongin sedang sibuk di dapur membuat coklat yang rencananya akan dia taruh diam-diam di loker Sehun.

 

Ibunya memandang heran anak bungsunya yang serius sekali membuat coklat sampai memporak porandakan dapurnya. “Kau mau menghancurkan dapur Ibu ya, Sayang?”

 

Ibu dua anak yang masih cantik diusianya yang tidak muda lagi memandang takjub pada tumpukan alat masak yang kotor di wastafel.

 

“Ya Tuhan, apa yang terjadi di dapur suci Ibuku?” Taemin berseru heboh melihat keadaan dapur yang waw—sungguh berantakan. Dia bahkan lupa jika sedang memakai masker wajah untuk membuat wajahnya tetap cantik mempesona. Membuat retakan-retakan di wajah yang ugh—sungguh tidak indah.

 

“Apa? Aku hanya membuat coklat. Kalian terlalu berlebihan.” Jongin memutar matanya imajiner. Kesal dengan reaksi berlebihan ibu dan saudara kembarnya.

 

“Kau sungguh jelek, Taem. Dengan banyak retakan di wajahmu.” Jongin menunjuk wajah Taemin dengan jari telunjuknya yang berlumuran coklat.

 

Ibu mereka mengangguk setuju dengan pernyataan Jongin mengenai kejelekan wajah Taemin saat ini. “Jongin benar, Nak. Kau sungguh tidak okay.” Telapak tangan dengan cat merah dikukunya melambai ke atas membentuk gerakan berombak, seolah-olah menemukan sesuatu yang menjijikan. Sekarang kalian tahu dari mana sifat autis Taemin berasal.

 

“Ah, aku sampai lupa kalau sedang menggunakan masker. Ini salahmu, Jong. Kau membuatku kaget dengan menghancurkan dapur suci Ibu.” Kedua tangannya menangkup di kedua sisi pipinya yang dilapisi masker.

 

“Kau bahkan membuat Ibu berkata tidak okay padaku. Kau sungguh keterlaluan.” Taemin memasang wajah yang solah-olah dia sangat tersakiti dengan penuh penjiwaan.

 

“Maafkan Ibu, nak. Ibu tidak bermaksud menyakiti hatimu sampai seperti ini. Ini salah saudaramu yang memaksa Ibu mengatakannya.” Dua anggota keluarganya sedang memerankan adegan picisan yang biasa mereka tonton di opera sabun. Dia merasa menjadi peran antagonis mendengar percakapn mereka.

 

Jongin menghela nafas kasar, yang bisa dia lakukan hanya memaklumi kelakuan ibu dan saudara kembarnya. Dia berharap ayahnya cepat pulang agar dia tidak menjadi korban kelakuan orang-orang autis di rumahnya.

 

“Jika Ibu dan saudari kembarku yang tercinta ini hanya ingin memerankan adegan opera sabun yang biasa kalian tonton lebih baik biarkan aku menyelesaikan coklatku dengan damai.”

 

“Dia bahkan berani mengusir kita, Bu.” Mereka masih saja melanjutkan acting tak bermutunya.

 

“Eh, ngomong-ngomong kenapa kau membuat coklat, Jong? Kau tidak kerasukan setan kan?” Taemin tiba-tiba sudah kembali dalam keadaan normal, memandang heran Jongin.

 

“Apa Jongin punya orang yang disukai? Kau ingin membuat coklat untuknya ya?” Ibu mereka duduk di depan counter berhadapan dengan Jongin sambil menumpukan dagu di tangannya.

 

Wajah Jongin merona merah sekali sampai ke kupingnya. “Ah benar. Jongin kan menyukai Sehun, Bu.”

 

“Wah, anak Ibu yang satu ini sudah besar ternyata.” Ibu mereka terkekeh senang.

Sedangkan Jongin hanya diam menjadi bulan-bulanan ibu dan Taemin. Sampai wajahnya memerah hingga leher, dua perempuan berbeda umur di hadapannya tetap tidak peduli. Poor Jongin.

.

.

“Kenapa tidak berikan langsung saja sih?” Taemin memandang jengah Jongin yang sibuk tengok kanan-kiri.

 

Taemin terpaksa berangkat pagi-pagi karena Jongin yang akan memberikan, ralat, menyelipkan coklat di loker Sehun. Berhubung di sekolah mereka setiap loker menggunakan password dan Jongin beberapa hari sebelumnya sudah mengintai Sehun ketika memasukkan password lokernya.

 

“Dari pada kau mengomel lebih baik kau membantuku mengawasi keadaan ya, kakak kembarku yang cantik jelita.” Taemin yang merasa harus menjadi saudara yang bisa diandalkan, buru-buru melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang kakak untuk melindungi adiknya. Ok, sepertinya virus autis Taemin menular.

 

“Keadaan aman, Capten.” Jongin buru-buru memasukkan password dan menaruh coklat buatannya yang sudah dibungkus dengan box merah muda imut pilihan Taemin di loker Oh Sehun yang super keren.

 

Yupmission complete.” Jongin ber-high five dengan Taemin.

 

“Kau tidak melupakan suratnya kan?” Taemin bertanya. Mempercepat langkahnya supaya sejajar dengan Jongin. Yang entah kenapa kalau jalan seperti orang ingin buang air. Terlalu cepat.

 

“Tentu saja, aku sudah membuatnya susah payah. Tidak mungkin aku melupakannya.” Taemin menganggukan kepalanya dengan anggun.

 

Senyum cantik nan lembut dia berikan pada siswa yang berpapasan dengan mereka. Meraka berjalan menuju kelas masing-masing. Mode Taemin yang menjadi incaran para siswa di sekolah sudah menyala.

.

.

Kepala Jongin direbahkan di atas meja kantin. Luhan masih setia menemani hari-hari Jongin di kantin dan kelas. Kali ini ada yang berbeda dengan Jongin. Dia terlihat tidak bertenaga. Jongin yang biasa menjadi sosok kalem berubah begitu pendiam, kalem dan pendiam dua hal yang  berbeda, dan sedikit aneh.

 

“Kau baik-baik saja, Darl?” Luhan menatap Jongin sambil memasukan potongan daging asap ke mulutnya.

 

Jongin hanya mengangguk lemah. Kepalanya sedang dipenuhi dengan nasib coklat yang sudah susah payah dia buat. Bagaimana kalau Sehun membuangnya?

 

“Coklatku~” Gumaman Jongin begitu lirih sempat terdengar oleh Luhan walau tidak jelas.

 

“Kau berbicara sesuatu?” Jongin bangkit dari rebahannya, menggeleng cepat menjawab pertanyaan Luhan lalu dia melahap menu makan siangnya seperti tunawisma yang belum makan seminggu. Tuh kan dia aneh.

 

Jongin masih sibuk dengan menu makan siangnya ketika tiba-tiba Taemin, si siswi cantik incaran para siswa, menepuk pundaknya dengan Sehun yang berdiri di sampingnya. “Hi, Jong.”

 

“Uhuk-huk” Jongin terkaget melihat Sehun tiba-tiba sudah duduk di hadapannya, depan Luhan sebenarnya. Tapi kan tetap saja. Ini terlalu dekat. Ya Tuhan.

 

Sehun dan saudara kembarnya yang sayangnya 4 menit lebih dulu melihat dunia, Taemin, berada dalam kelas yang sama. Di tambah pula, Taemin yang merupakan anggota cheerleader sering bersama Sehun untuk menyemangati Team Rugby sekolah mereka. Sebenarnya tugas anggota cheerleader mendukung tiap pertanding dari semua team sekolah. Tapi entah mengapa Sehun dan Taemin terlihat lebih dekat dibandingkan dengan yang lain.

 

Luhan buru-buru memberikan susu kotak Jongin. “Thanks, Han.”

 

Taemin menyeringai melihat Jongin yang mukanya merona super merah. “Aku mengajak Sehun untuk berjaga-jaga siapa tahu ada stalker yang menggnggu Sehun.” Jongin melotot mendengar pengakuan Taemin, sedangkan yang kena plototan hanya tersenyum geli.

 

“Aku tidak punya yang seperti itu, Taem.” Sehun tersenyum mempesona mendengar ucapan Taemin. Uwaahaku bisa mati di tempat jika dia tersenyum seperti itu.

 

Luhan, Taemin dan Sehun mengobrol dengan normal. Tidak seperti Jongin yang sibuk dengan jantungnya.

.

.

To be Continued

Advertisements

One thought on “[Chapter 1] Girls on Mission

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s